Penjelasan dari Sisi Psikologis Tentang Ghosting

Maret 14, 2021 0

 

Ilustrasi, sumber foto: Freepik.com


Awalnya hanya satu chat yang tidak terjawab. Setelah sekian lama, setiap kali kamu menghubunginya, tidak ada jawaban sama sekali. Ditelepon tidak diangkat, apa lagi chat. Bingung, sedih, marah menjadi satu. Yang membuatnya semakin sakit adalah ia tampak aktif di media sosialnya.


Itu ghosting. Seperti hantu atau ghost, istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang meninggalkan hidup kita tanpa penjelasan apa pun. Semua yang tersisa adalah luka dan sakit hati karena lenyap seolah-olah kita tidak berarti apa-apa dalam hidupnya.


Selanjutnya, istilah ghosting sering digunakan dalam hubungan cinta. Namun masalah ini juga bisa terjadi pada jenis hubungan lain, lho. Misalnya dalam pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. Ini juga bisa terjadi pada semua orang, tanpa memandang wanita atau pria.


1. Mengapa orang ghosting?


Saat kamu mengalami ghosting, kamu bertanya-tanya mengapa dia meninggalkan tanpa sepatah kata pun. Ternyata alasannya bermacam-macam dan tidak bisa digeneralisasikan. Namun, berbagai penelitian telah mengumpulkan sejumlah penyebab umum ghosting. Berikut ini termasuk:


  • Orang tersebut tidak lagi merasa aman dalam hubungan tersebut. Umumnya hal ini terjadi ketika mereka mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, pasangan melanggar privasi, kekerasan, dan sebagainya;

  • Takut akan kedekatan. Umumnya ketakutan ini muncul dari rasa takut tertinggal di masa depan. Oleh karena itu, mereka memilih untuk pergi sebelum disakiti;

  • Ada juga yang melakukan ghosting karena ingin balas dendam. Mereka telah di-ghosting dalam hubungan sebelumnya, jadi ingin orang lain merasakan sakit yang sama;

  • Hindari konflik. Menjelaskan alasan ingin putus sulit untuk para pelaku ghosting. Untuk menghindari perdebatan dan argumen, mereka memilih pergi tanpa penjelasan;

  • Kurangnya koneksi dalam hubungan. Karena tidak memahami perasaan satu sama lain, seseorang secara sepihak memutuskan hubungan;

  • Minim konsekuensi. Ghosting dianggap sebagai cara termudah untuk keluar dari suatu hubungan.


2. Ghosting lebih mudah dilakukan jika kita hanya berkomunikasi secara online


Ghosting bukanlah hal baru dalam hubungan. Ini hanyalah salah satu dari banyak cara untuk memutuskan hubungan dengan seseorang. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa fenomena ini semakin masif beberapa tahun terakhir ini.


Ini semua berkat penggunaan internet sebagai media komunikasi. Sebuah studi 2018 dari Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa setidaknya 25 persen peserta pernah mengalami ghosting. Sedangkan 20 persen mengaku sebagai pelakunya.


Sederhananya, ketika kita bertemu seseorang di media sosial atau platform kencan online, peluang untuk berbayang menjadi jauh lebih besar. Melansir Psychology Today, ini terjadi karena kita tidak merasa ada ikatan yang jelas dalam hubungan. Apalagi jika hubungan baru seumuran jagung.


Selain itu, ghosting lebih mudah dilakukan saat kamu tidak harus menghadapi orang lain di dunia nyata. Ini juga alasan mengapa mudah bagi seseorang untuk meninggalkan hubungan tanpa penjelasan.


3. Ambiguitas yang diciptakan oleh ghosting membuat korban semakin terluka


Di sisi lain, korban ghosting umumnya mengalami sakit hati yang lebih besar daripada dibuang begitu saja. Ini semua karena ambiguitas yang diciptakan perlakuan tersebut, menurut laporan di laman Psychology Today.


Bayangkan saja kamu tidak memiliki kejelasan setelah menjalin hubungan selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun. Kamu pasti bingung kan? Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah stable ambiguity. Mengutip laman PESI, kondisi ini membuat korban tidak tahu harus berbuat apa.


Beberapa orang akan bertanya-tanya apa yang salah dengan hubungan itu. Beberapa justru merasa khawatir dan mengira bahwa si pelaku ghosting tersebut terluka atau terbaring di rumah sakit, sehingga tidak bisa memberi kabar. Ketidakjelasan ini juga akan membuat korban merasa masih memiliki harapan.


4. Ghosting memberi korban harapan palsu


Seperti disebutkan diatas, ghosting akan membuat korban merasa masih memiliki harapan. Ini karena pihak lain tidak memberikan kejelasan. Karena kata putus belum terucap, maka korban akan merasa masih menjalin hubungan dengan pelaku ghosting tersebut.


Harapan palsu ini mencegahnya untuk melanjutkan hubungan dan terus merasa sakit hati. Sebab, pasangan tidak menjawab satupun kontak yang dia buat. Lama kelamaan, korban akan mempertanyakan dirinya sendiri. Apalagi saat dia tiba-tiba melihat bahwa pelaku ghosting itu sudah memiliki orang lain di sisinya.


5. Korban akan menyalahkan dirinya sendiri atas ghosting tersebut


Melanjutkan poin sebelumnya, korban ghosting akan mulai mempertanyakan diri sendiri, atau lebih tepatnya menyalahkan. Mengutip The Healthy, pikiran ini muncul karena penolakan membuat kita merasa terhina, bodoh, tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak cukup baik.


Terlebih lagi, ketika pasangan tidak memberi tahu apa alasannya memutuskan hubungan secara sepihak. Korban tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui dan mengoreksi kesalahan apa yang mungkin telah mereka lakukan. Hal ini kemudian berpengaruh besar pada tingkat kepercayaan diri korban.


Lebih fatal lagi, jika penolakan ini dialami oleh orang yang memiliki rasa percaya diri yang rendah. Menurut jurnal dari Haverford College tahun 2008, individu dengan harga diri rendah akan kesulitan membangun pola pikir positif dalam hubungan selanjutnya. Hal ini dikarenakan trauma, rasa malu, dan menyalahkan diri sendiri (self-blame) yang mereka alami lebih besar.


6. Ghosting adalah perlakuan yang mirip dengan silent treatment


Silent treatment adalah penolakan untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain sebagai bentuk hukuman atau penghindaran. Misalnya, kamu membuat kesalahan dengan pasanganmu dan kemudian dia mendiamkanmu selama sehari atau beberapa hari.


Para ahli setuju bahwa silent treatment adalah kekerasan emosional. Mengutip Medical News Today, dikatakan bahwa karena perlakuan tersebut membuat korban merasa tidak berdaya dan tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang diinginkan pelaku. Korban juga tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan emosi.


Hal yang sama tampaknya juga berlaku pada ghosting. Meski belum ada penelitian khusus yang membahas hal ini, namun perlakuan yang didapat korban ghosting kurang lebih sama dengan silent treatment. Terlebih lagi, ghosting membuat korban merasa tidak berdaya untuk jangka waktu yang tidak jelas.


Sama seperti penganiayaan fisik, penganiayaan emosional meninggalkan bekas luka pada korban. Melansir Psychology Today, hal ini juga akan menurunkan tingkat kepercayaan diri dan rasa percaya diri dalam mengembangkan hubungan lain di masa depan.


7. Bagaimana cara keluar dari pengalaman ghosting?


Apa yang harus dilakukan saat menjadi korban perlakuan seperti itu? Berikut beberapa hal yang akan berguna bagimu:


  • Sadarilah bahwa orang yang melakukan ghosting tidak cukup berani untuk menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Mereka juga tidak cukup dewasa untuk memperlakukan kamu sebagaimana seharusnya;

  • Tidak apa-apa jika kamu ingin memberi batasan waktu pada orang tersebut, katakanlah, beberapa minggu. Setelah itu, jika masih belum ada kabar, berarti hubungan kalian sudah berakhir dan kalian berhak untuk move on. Ini adalah cara untuk menetapkan batas atau menetapkan batas;

  • Jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Kedengarannya mudah untuk dikatakan, tetapi terkadang sulit dilakukan. Namun, percayalah bahwa perlakuan terhadap orang lain tidak menentukan harga dirimu;

  • Wajar jika kamu sedih dan mengakui setiap perasaan yang menghampirimu. Beri dirimu waktu untuk sembuh dengan cara yang sehat;

  • Tidak ada salahnya jika kamu ingin curhat pada orang yang kamu percayai. Dengan begitu, beban di pundakmu bisa terangkat;

  • Tidak perlu bertanya kepada pelaku mengapa mereka meng-ghosting-in dirimu. Ini akan membuatmu semakin sakit hati. Apalagi jika mereka tidak menjawabnya;

  • Jangan takut untuk meminta bantuan psikolog jika kamu membutuhkannya.


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ghosting bukanlah langkah bijak untuk mengakhiri suatu hubungan. Ini akan menunjukkan bahwa kita bukanlah orang yang dewasa dan menghormati orang lain. Oleh karena itu, perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan, ya!

Situs Poker Online, Domino Qiu QiuPoker88Agen Judi Poker OnlinePokersnow

0 Comments for "Penjelasan dari Sisi Psikologis Tentang Ghosting"