Penjelasan soal Emosi Pengaruhi Pertumbuhan Sel Kanker

Maret 14, 2021 0

 

Ilustrasi, sumber foto: Istimewa


Kamu pasti sudah sering mendengar bagaimana orang berusaha menghibur mereka yang sedang menderita kanker. Seringkali, kata-kata penghiburan ini menegaskan agar penderita tidak terlalu stres dan harus bahagia serta tetap semangat.


Sebenarnya, adakah bukti ilmiah yang benar-benar membuktikan hubungan antara emosi dan pertumbuhan sel kanker atau tumor? Benarkah emosi negatif akan memperburuk keadaan dan emosi positif dapat memperbaiki keadaan? Simak di sini untuk penjelasan lengkapnya!


1. Penelitian panjang


Hubungan antara emosi dan sel kanker pada diri seseorang telah dibuktikan sejak lama. Beberapa peneliti telah membuktikan hubungan antara keduanya, seperti yang dilakukan Profesor David Spiegel dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford.


Akan tetapi, objek penelitian hanya berfokus pada emosi negatif seperti stres dan depresi dan tanpa menggunakan peta fisiologis dari mekanisme kerja otak. Dengan demikian, belum diketahui secara pasti bagaimana emosi dapat mempengaruhi pertumbuhan sel.


Profesor Asya Rolls dari Rappaport Fakultas Kedokteran juga melakukan penelitian. Bersama tim, ia melakukan studi bagaimana emosi dapat mempengaruhi respons sistem kekebalan tubuh terhadap sel kanker.


2. Imunoterapi: pisau bermata dua


Imunoterapi adalah metode pengobatan yang semakin banyak digunakan untuk mengobati penyakit tertentu seperti kanker. Caranya adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


Meski begitu, keterlibatan sel imun dalam mengatasi masalah kanker ibarat pisau bermata dua. Pasalnya, beberapa komponen di dalam sel tersebut juga mendukung pertumbuhan tumor. Respon imun diblokir dan sebagai gantinya mereka akan menciptakan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhannya.


Namun, angin segar datang dari penelitian ini. Sebagaimana dijelaskan dalam jurnal tersebut, aktivitas sistem penghargaan di otak dapat membantu mengatur sistem kekebalan mana yang bekerja. Sistem penghargaan itu sendiri adalah sekelompok struktur saraf yang bertanggung jawab atas emosi positif dan pembelajaran asosiatif.


3. Sistem komunikasi tubuh yang kompleks


Berdasarkan ide-ide ini, Profesor Rolls dan timnya melakukan studi praklinis. Percobaan dilakukan dengan memanipulasi sistem penghargaan pada model tikus kanker kulit dan kanker paru-paru.


Secara khusus, mereka menargetkan neuron pelepas dopamin yang ditemukan di area VTA (Ventral Tegmental Area). VTA sendiri merupakan bagian dari otak yang merupakan wilayah utama keberadaan sistem reward. VTA ini akan berkomunikasi dengan sistem limbik, yaitu struktur otak yang bertanggung jawab untuk memproses emosi.


Dari sini, studi juga menemukan interaksi dengan sistem saraf simpatis, jaringan neuron dan sistem yang ditemukan sebagian di sistem saraf pusat, dan sebagian lagi di sistem saraf tepi. Interaksi rumit ini kemudian meluas ke sistem kekebalan.


4. Hasil yang mencerahkan


Ketika tim menguji efek ini pada model tikus, mereka menemukan bahwa dengan menstimulasi VTA, sistem kekebalan merespons dengan lebih efektif. Setelah 14 hari aktivasi VTA, ukuran sel tumor pada mencit berkurang 46,5 persen dan bobot sel tumor juga berkurang 52,4 persen.


Penelitian ini masih merupakan studi praklinis dan hanya dilakukan pada dua jenis kanker. Meski begitu, mereka yakin bahwa hasil percobaan ini dapat memberikan pengaruh bagi praktisi kesehatan dalam melihat peran emosi pasien dalam perkembangan dan pengobatan penyakitnya.


Menjadi penderita kanker memang tidak mudah, begitu pula orang-orang terdekat yang merawatnya. Namun, penelitian ini setidaknya bisa menjadi salah satu alasan logis mengapa tidak sebaiknya untuk berputus asa dan menyerah pada situasi.

Situs Poker Online, Domino Qiu QiuPoker88Agen Judi Poker OnlinePokersnow

0 Comments for "Penjelasan soal Emosi Pengaruhi Pertumbuhan Sel Kanker"