Sumber : dok. Netflix
POKER SNOW - Trese adalah film animasi Netflix yang diadaptasi dari novel atau komik milik Budjette Tan dan Kajo Baldisimo dari Filipina. Saat ini Trese menjadi serial animasi pertama dari Asia Tenggara yang berada bawah naungan BASE Entertainment.
Bukan tanpa alasan film animasi Trese kini dikembangkan, produser BASE Entertainment Shanty Harmayn menjelaskannya dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.
Shanty Harmayn mengaku tak hanya ingin memfokuskan diri pada film-film Indonesia, melainkan juga pada cerita dari negara lain.
Tak sendiri, Shanty Harmayn ditemani rekannya, Tanya Yuson dalam memproduksi serial animasi Trese. Shanty Harmayn menyebutkan, dirinya memiliki pemikiran yang sama dengan Tanya Yuson.
"Sejak awal saya dan Tanya memang punya mindset yang sama. Kami BASE Entertainment, nggak cuma mau fokus dengan film Indonesia. Tapi juga mau mulai merambah ke cerita-cerita dari negara tetangga, termasuk Filipina," ujar Shanty Harmayn.
Dalam mengadaptasi serial animasi ini, mereka berdua mengaku cukup melewati waktu yang lama. Tanya mengaku sudah tertarik dengan animasi ini sebelum bertemu dengan Shanty.
Selain itu, karena pernah tinggal di Manila, Tanya merasa sangat dekat dekat dengan cerita dalam film Trese. Hal itu ia sebutkan dalam jumpa pers.
"Jauh sebelum bertemu Shanty, aku sudah tahu Trese ini punya cerita yang bagus," tutur Tanya Yuson.
"Apalagi aku tumbuh di Manila dan aku sangat kenal dekat dengan latar dari Trese serta berbagai makhluk jahat yang menjadi penjahat di seri ini," lanjut Tanya.
Proses pelaksanaan project ini memakan waktu 11 tahun semenjak Tanya menyampaikan tujuannya pada teman-temannya. Pada tahun 2010 lalu, Tanya mengaku langsung menghubungi Shanty untuk memproduksi animasi Trese.
"Akhirnya tahun 2010 aku bertemu Shanty dan coba untuk menghubungi pembuat Trese, Budjette dan Kajo. Mereka pun mau dengan sabar menunggu realisasi project selama 11 tahun," lanjut Tanya.
Meski demikian, siapa sangka ternyata dahulu Trese bukan hendak dijadikan sebuah animasi. Tanya dan teman-temannya mengaku hendak membuat live action.
Hal tersebut karena proses pembuatan animasi membutuhkan biaya yang cukup banyak. Tanya sempat berpikir tak ada yang niat melakukan pekerjaan itu.
Selain alasan biaya, Shanty menambahkan, sempat ragu dengan wadah yang dapat menayangkan animasi Trese 10 tahun yang lalu. Tapi saat ini ia berharap pada Netflix yang dapat memberi wadah untuk Trese.
"Awalnya kami tidak mau membuat film animasi. Kami menginginkan seri ini diadaptasi menjadi live action," tutur Tanya.
"10 tahun yang lalu di Asia belum ada Netflix. Jadi memang aku rasa di sini ada unsur keberuntungan juga karena waktunya pas aja," sambung Shanty.







0 Comments for "Cerita BASE Entertainment Soal Perjalanan Proyek Film Animasi Trese"