Tewas dalam Baku Tembak dengan Polisi, Berikut Rekam Jejak Ali Kalora

Oktober 03, 2021 0

 

Poker Snow - Poster berisi daftar DPO anggota MIT di Poso (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)


Pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora tewas setelah terlibat baku tembak dengan Satgas Madago Raya di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.


"Kami sudah mendapatkan laporan terkait itu," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono seperti dikutip ANTARA, Minggu (19/9/2021).


Perjalanan panjang Ali Kalora dan kelompoknya telah usai. Meski masih ada 4 anggota MIT yang masih buron, polisi meminta mereka menyerahkan diri.


Tapi siapa Ali Kalora dan apa yang menyebabkan dia begitu dicari ke hutan di Parigi Moutong? Berikut ulasannya.


Ali Kalora dan kelompoknya dikenal sadis


Aparat keamanan Indonesia sudah lama memburu MIT. Satuan Tugas (Satgas) dibentuk dalam perjalanan memburu Ali Kalora dan kelompoknya. Terakhir, Satgas Madago Raya yang berhasil mengakhiri perjalanan Ali Kalora.


Sebelumnya, Satgas Tinombala yang juga dalam proses pencarian berhasil menjaring sejumlah DPO dari MIT. Satgas yang beroperasi saat Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjabat, menargetkan Ali Kalora sebagai sasaran utama.


Ali Kalora dan kelompoknya adalah dalang dari sejumlah aksi keji seperti pembunuhan terhadap masyarakat. Tahun 2020 MIT melakukan aksi teror dengan membunuh empat warga di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.


Korban adalah satu keluarga, terdiri dari suami istri, anak, dan menantu perempuan. Tujuh bangunan juga ikut terbakar, terdiri dari enam rumah warga dan satu rumah ibadah.


Pada 11 Mei 2021, teroris MIT ini juga membunuh empat petani di Desa Klimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso. Mereka menyerang perkebunan. Korban ditemukan dengan luka di leher.


MIT sulit ditangkap karena persembunyiannya


Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono dalam keterangan pers di Bareskrim Polri, Selasa 2 Desember 2020 menjelaskan alasan Ali Kalora atau nama aslinya Ali Ahmad dan kelompoknya sulit ditangkap.


Beberapa anggota MIT bahkan tidak terlihat oleh petugas meski hanya berjarak 10-20 meter karena hutan di sana cukup lebat. Kelompok teroris ini juga sering pergi ke pemukiman penduduk untuk merampok makanan warga karena terdesak.


Pemimpin MIT sebelumnya, Santoso, meninggal lebih dulu pada tahun 2016


Dalam buku berjudul Kekhalifahan ISIS di Asia Tenggara karya Poltak Partogi Nainggolan (2019), dijelaskan potensi ancaman terorisme terus ditumpas, sisa-sisa pengikut MIT, terutama kelompok Santoso yang belum tertangkap setelah Santoso meninggal, menjadi sasaran utama Operasi Tinombala.


Pemimpin MIT, Santoso, tewas dipersembunyiannya di Blue Mountain, Poso pada Juli 2016. Ali Kalora, yang saat itu belum tertangkap, dikabarkan menguasai beberapa wilayah di Poso.


Ali Kalora, tangan kanan Santoso yang dilatih secara militer


Melansir dari buku berjudul Ancaman Virus Terorisme karya Prayitno Ramelan (2017) yang dipublikasikan secara online, dijelaskan bahwa Ali adalah salah satu tangan kanan Santoso dan telah mengikuti Santoso sejak lama. Tepatnya sejak teror 2011.


Ia mengikuti pelatihan militer bersama anak buah Santoso lainnya. Ia terlibat dalam penembakan polisi di pos polisi di Palu, Jalan Emi Saelan tepatnya di depan kantor BCA Palu.


Kelompok Santoso terpecah menjadi dua faksi, satu dipimpin oleh Ali dan yang lainnya oleh Santoso. Ali Kalora dijelaskan memimpin 16 orang yang juga anak buah Santoso. Dia disebut yang paling berbahaya.


Seperti diberitakan sebelumnya, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Ali Kalora tewas dalam baku tembak dengan Satgas Madago Raya di Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Selain Ali Kalora, seorang anggota MIT lainnya bernama Krima alias Jaka Ramadhan alias Rama juga tewas. Baku tembak dilaporkan terjadi pada Sabtu, 18 September 2020.

0 Comments for "Tewas dalam Baku Tembak dengan Polisi, Berikut Rekam Jejak Ali Kalora"